Pesona Ar-Rahman

Rona warna keemasan menghiasi langit dan bias-bias cahaya yang jatuh menerpa air laut. Bunyi-bunyi riak pun juga begitu tenang  dan damai mampu menentramkan jiwa yang resah. Sesekali angin sepoi-sepoi meniup dahan-dahan nyiur dan membuatnya melambai gemulai bagaikan lambaian seorang yang melepas kekasihnya pergi di ujung dermaga. Senja kemerahan tersapu di langit raya dan tergantikan langit yang hitam kelam. Pemandangan yang luar biasa dan tak pernah sama tiap harinya. Disekitarku terdapat beberapa pemuda-pemudi yang lalu lalang dan sebagaian sedang duduk menikmati keindahan alam kala petang seperti yang sedang kulakukan. Lantunan azan terdengar menggema di alam raya, menandakan waktu magrib telah tiba dan akupun beranjak dari tepi pantai Alue Naga pulang menuju rumah untuk menunaikan shalat magrib, meskipun masih ada sebagian masih memilih untuk berada disitu melihat senja tenggelam dengan sempurna.

Sebenarnya tak elok  dalam pandangan masyarakat, seorang Inoeng Aceh harus pulang  di kala magrib, tapi biarlah aku sedang tak menghiraukan pandangan orang-orang. Aku hanya ingin melihat dan menikmati sunset di petang ini  untuk menghibur diriku yang sedang pilu, melupakan sebentar beban erat yang sedang kupikul dan segenap penekanan yang ada dalam jiwaku, tadi  aku  merasa cukup terhibur dengan pemandangan sunset yang Subhanallah sangat indah diciptakan oleh Yang Maha Esa.

Ku lajukan sepeda motor, dengan kecepatan 60 km/jam melintasi jalan  dekat jembatan Krueng Cut yang cukup padat, mungkin orang-orang sedang buru-buru menuju kediaman masing-masing untuk menunaikan shalat magrib dan tak lama kemudian aku telah tiba dikontrakanku sebuah rumah bantuan Tsunami yang letaknya masih di seputaran Darussalam. Ku parkirkan motor di garasi dan masuk dari pintu samping menuju kamar. Rumah terasa hening mungkin temanku terlebih dahulu  menunaikan shalat. Takut kehabisan waktu magrib aku pun beranjak menuju kamar mandi berwudhu dan setelahnya menunaikan shalat magrib di kamar sendirian. Dari kamar sebelah ku dengar lantunan ayat –ayat Al-quran sedang dibacakan oleh teman ku, hmmm aku juga tak mau ketinggalan kuraih mushah di atas lemari pakaian dan kembali duduk di atas sajadahku, selanjutnya ayat demi ayat surat Al-Rahhman mulai terlantun dari bibirku.

 Saat tiba pada  ayat Fabiayyi alaa irabbikuma tukazzibann…aku tertegun, bulir-bulir air mata pun membasahi pipiku dan  sebagian mulai jatuh mengenai mukena yang sedang kupakai. Ku ingat lagi makana suratnya “Dan dimanakah nikmat tuhanmu yang engkau dustakan”. Telak, bagaikan satu tamparan ynag tepat mengenai mukaku. Inilah jawaban atas semua masalah yang sedang mengahantamku, yang membuat aku tak bisa tidur kala malam, yang membuatku terduduk dikala petang dalam kesendirian.

 Teringat akan suara ibu yang menelponku saat shubuh  kemarin dan memintaku untuk pulang ke kampung karena sudah tak mampu lagi membiayai kuliahku, padahal hanya tinggal beberapa semester lagi aku akan lulus. Rasanya sangat menyesakkan bila membayangkan semua impian dan cita-citaku harus berguguran tanpa arti dan aku harus pulang tanpa membawa hasil apapun, aku tak ingin menyerah sampai disini saja dan seandainya aku harus berhenti kuliah aku bisa merasa sangat terpukul. Sempat aku mengeluh dalam hati kenapa aku dilahirkan dalam keluarga yang kurang mampu, kenapa untuk mencapaikan sebuah niat yang baik harus banyak cobaan, dan masih banyak lagi pikiran-pikiran picik serta prasangka buruk yang mempengaruhi otakku yang melawan semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah.

Kilas buyar tentang pemandangan sunset tadi sore juga membayangi, dan kumulai merenungi..hmmm Allah SWT ternyata menciptakan awan dan warna di langit tak pernah sama dengan hari sebelumnya, dan tiap hari selalu ada awan dan warna langit yang berbeda di seluruh penjuru dunia dan sepanjang waktu. Satu nilai positif yang bisa ku ambil Allah juga memberikan macam ragam masalah dalam hidupku agar aku selalu bersyukur, dan Syukur Alhamdulillah aku dikarunia akal dan fisik yang masih sehat dan insyaallah aku akan mencari cara mungkin dengan bekerja Part time untuk menyelesaikan kuliah dan meringankan beban orangtuaku.  Kusambung bacaan surat Ar-rahhman hingga akhir surat dan  kusudahi dengan membaca Sadaqallahul a’zim. (dalam hati ku bertekat lihatlah ibu jika Tuhan mengijinkan aku akan membahagikanmu di suatu hari kelak)

***

 (Cerpen Pertamaku…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s