Sudut Pandang

PACARAN DAN KOMITMEN MEMANG SAMA RUMIT…

 

Malam ini hujan,
Sudah sejak pagi mulai mendung , gerimis mulai turun di sore hari  dan malam ini hujan deras..Aku kedinginan saat ini, saat duduk di depan speker MP3, ntah lagu apa yang sedang kudengar. Karena aku sedang termenung dengan satu kata mengulang-ulang di dalam kepalaku : “maafkan aku, sayang..”
Aku hanya berharap bisa bertemu dia dan mengungkapkan semua hal yang ada di dalam kepalaku : kata-kata permintaan maaf yang diulang-ulang itu.
Aku minta maaf karena aku….
Aku minta maaf karena….
Aku minta maaf….
Aku minta maaf….
Aku….
Dan akhirnya air mataku mengalir.
Suara lagu yang terdengar sudah benar-benar aku abaikan, kini lututku melipat, kepalaku menunduk diatas lutut dan aku menangis sampai sesak napas. Hal pertama yang paling aku sesalkan saat aku resmi menjadi dewasa adalah keadaan otakku yang hampir setiap saat dipenuhi pertanyaan. Kini, sama seperti hari-hari yang kulalui selama bertahun-tahun belakangan ini, otakku dipenuhi berbagai pertanyaan. Begitu banyak. Saking banyaknya mungkin saja kalau otakku dan tempurung kepalaku pecah berkeping-keping, aku yakin pertanyaan-pertanyaan itu akan terus mengalir tanpa henti selama berhari-hari.
Kenapa? Kenapa aku begitu mencintaimu, tapi akhirnya aku harus minta maaf karena telah mencintaimu? Kenapa pada saat puzzle hidupku sudah terasa lengkap, segalanya mendadak berubah begitu sulit untuk dijalani? Kalau saja dari awal aku tahu bahwa mencintai seseorang akan begitu terasa menyakitkan dan berat seperti ini mungkin aku lebih memilih untuk tidak mencintai saja. Karena rasanya begitu menyakitkan, begitu menyesakkan. Aku tidak pernah menyangka kalau cinta bisa begitu kejam, tapi sekarang aku tahu kata-kata itu terbukti benar.
Aku tegakkan kepalaku, meluruskan lututku yang mulai merasa kram, menyapu air mataku, lalu mencoba menarik napas panjang. Tapi celakanya, pertanyaan lain menghampiri otakku.
Kalau begitu, apakah aku tidak boleh mencintai? Tapi kalau ternyata mencintai berarti kebahagiaan bagiku, apa itu artinya aku tidak boleh bahagia? Jadi apa yang pantas aku dapatkan? Aku hanyalah manusia biasa yang berusaha mencari kebahagiaan dengan berjuang menghadapi hidup yang begitu berliku dan nyaris kelihatan tanpa arah dan harapan. Jika semua itu malah menyakitkanku, apalah artinya aku mengejar kebahagiaan itu? Jika cinta tak lagi membahagiakanku, jika hidup membuat perih, jika semua membuatku sakit dan merasa dikhianati. Pernahkah kau merasa hidup menusukmu dari belakang? Aku pernah dan sedang mengalaminya. Percayalah, semua itu membuatmu ingin bunuh diri.
Benar juga kata seseorang : kita tidak boleh mencintai seseorang hingga 100%, karena kita akan merasakan sakit yang berkali-kali lipat saat kehilangannya. Bisa 200%, 300%, beratus-ratus %… Aku sudah terjebak di dalam dilema itu, tanpa aku sadari. Sungguh sial, sebentar lagi aku bisa saja bunuh diri karena cinta itu.
Sekarang aku mengusap air mataku dengan kasar, merasa begitu kesal karena air mata-air mata itu seenaknya saja jatuh ke pipiku tanpa meminta izinku sebelumnya. Kalau bisa, tentu saja aku tidak akan mengizinkan satu tetes air mata pun jatuh ke pipiku. Mungkin air mata kebahagiaan masih bisa aku toleransi, tapi jika air mata itu akibat penderitaan? Tolonglah aku, sudah cukup menderita, jangan membiarkan aku menderita lebih jauh lagi.
Lagi-lagi aku mencoba menarik napas walaupun kata-kata itu masih mengalun berulang-ulang di kepalaku dan mulai membuatku sakit kepala. Ingin sekali saat ini aku menelepon seorang sahabat, mengatakan kalau aku sedang disiksa, mengadu kepadanya kalau aku tidak bahagia dan bersungut-sungut untuk minta diselamatkan.Tapi belum sempat aku meraih telepon, tiba-tiba perkataan seseorang terngiang lagi di dalam kepalaku.
Cinta tidak bisa di kekang. Dan cinta tidak bisa diperlakukan dengan egois. Kamu harus belajar untuk mengerti dan merelakan dengan ikhlas serta terus bersabar.
Aku tidak lagi peduli dengan air mataku, tidak peduli dengan kepalaku, apa lagi pertanyaan-pertanyaan d otakku. Karena selain kelegaan yang aku rasakan karena menemukan solusi untuk mengatasi keadaanku sebelum orang lain memaksaku masuk Rumah Sakit Jiwa, aku juga sekaligus merasakan kekecewaan. Kenapa hidup tidak mau membiarkanku mengecap kebahagiaanku begitu saja? Tak perlu campuri, tak perlu bumbui, aku hanya ingin merasakan kebahagiaan sebagaimana adanya, itu saja.
Lihat, kan? Lagi-lagi daftar pertanyaan di dalam otakku yang memenangkan tempat utama dan berhasil mempengaruhiku lebih dulu. Tidak ada jalan lain, aku harus mulai mempelajari jurus yang diajarkan seseorang tersebut. Mengerti dan merelakan, itu saja. Sungguh, mengatakannya saja sudah terasa begitu berat.
Tanpa aku sadari tangisanku pecah lagi.
Ingin aku berteriak : “AKU LELAH……”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s